REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa tabung CNG 3 kg kini telah memasuki tahap uji coba langsung kepada masyarakat. Namun, pada fase awal ini, uji coba masih sangat terbatas bagi kalangan internal di lingkungan Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas).
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengungkapkan bahwa evaluasi menyeluruh akan dilakukan pada September mendatang. Evaluasi ini tidak hanya mencakup kinerja teknis tabung, tetapi juga bagaimana pemanfaatannya oleh masyarakat.
“September ini kami akan dapatkan hasil evaluasi, bukan hanya dari sisi kinerja tabung, melainkan juga dari sisi bagaimana dimanfaatkan oleh masyarakat,” ujar Laode di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin.
Uji Coba di Lingkungan UMKM Lemigas
Laode menegaskan bahwa masyarakat yang dilibatkan dalam tahap uji coba ini masih terbatas pada komunitas internal Lemigas. “Masyarakat (yang uji coba) masih terbatas di lingkungan internal Lemigas. Kan di sana ada UMKM,” kata Laode.
Ia menjelaskan bahwa dalam kurun waktu satu bulan ke depan, pengujian telah beralih ke tahap penggunaan secara langsung oleh pengguna. Hal ini berbeda dengan tahapan-tahapan sebelumnya yang lebih berfokus pada pengujian ketahanan dan spesifikasi tabung itu sendiri.
“Kalau kemarin kan kita masih uji coba tahapan tabung dan lain-lain, sekarang kami sedang siapkan untuk digunakan dan dievaluasi selama satu bulan,” ujar dia.
Tantangan Teknis dan Kemandirian Energi
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyampaikan bahwa teknologi Compressed Natural Gas (CNG) sebenarnya bukanlah hal baru. Teknologi ini telah lama digunakan di sektor perhotelan, restoran, kafe (horeka), hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG). Akan tetapi, pemanfaatannya selama ini masih terbatas pada tabung berkapasitas besar di atas 10 hingga 20 kilogram.
Menurut Bahlil, tantangan utama dalam uji coba tabung kecil ini terletak pada aspek teknis. Ia menyoroti bahwa tekanan gas CNG sangat tinggi, yakni sekitar 200 hingga 250 bar. Angka ini jauh lebih kuat apabila dibandingkan dengan tekanan LPG yang hanya berada di kisaran 5–10 bar.
Pemerintah terus mengkaji penggunaan CNG sebagai alternatif pengganti LPG tabung 3 kilogram. Langkah ini merupakan strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor energi. Bahlil menegaskan bahwa uji coba harus terus dilakukan demi mencapai tujuan tersebut.
Bahlil menambahkan, CNG memiliki keunggulan karena seluruh bahan bakunya tersedia di dalam negeri, termasuk sumber gas alam yang melimpah. Selain itu, pemerintah juga baru saja menemukan cadangan gas baru di Kalimantan Timur yang berpotensi dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan domestik.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
Ikuti Whatsapp Channel Republika sumber : antara